Senin, 24 Juli 2017

Sejarah Peradaban Islam


Informasi: 
Abdurrahman: 085885753838


Panorama Maqashid Syariah

Informasi: 
Abdurrahman: 085885753838


Fiqh LGBT

Oleh: Dr. Misno, MEI

LGBT Bukan Fitrah, dengan tegas Allah menyatakan, fitrah manusia diciptakan dengan dua jenis, laki [dzakar) dan perempuan [untsa] [Q.s. al-Hujurat: 13]. Allah pun memberikan kepada masing-masing syahwat kepada lawan jenisnya [Q.s. Ali ‘Imran: 14]. Karena itu, Allah menetapkan, bahwa mereka dijadikan hidup berpasangan dengan sesama manusia, pria dengan wanita. Tujuannya, agar nalurinya terpenuhi, sehingga hidupnya sakinah, mawaddah wa rahmah [Q.s. ar-Rum: 21]. Dari pasangan ini, kemudian lahir keturunan yang banyak, sehingga eksistensi manusia tidak punah. Allah berfirman:
$pkšr'¯»tƒâ¨$¨Z9$#(#qà)®?$#ãNä3­/uÏ%©!$#/ä3s)n=s{`ÏiB<§øÿ¯R;oyÏnºurt,n=yzur$pk÷]ÏB$ygy_÷ry£]t/ur$uKåk÷]ÏBZw%y`Í#ZŽÏWx.[ä!$|¡ÎSur4(#qà)¨?$#ur©!$#Ï%©!$#tbqä9uä!$|¡s?¾ÏmÎ/tP%tnöF{$#ur4¨bÎ)©!$#tb%x.öNä3øn=tæ$Y6ŠÏ%uÇÊÈ
“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu “. [Q.s. an-Nisa’: 1].
Itulah mengapa Allah menjadikan perempuan sebagai ladang bagi pria, agar bisa ditanami, sehingga tumbuh subur dari rahimnya, dan melahirkan keturunan [Q.s. al-Baqarah: 223]. Itulah mengapa juga, Allah memerintahkan pria untuk menikahi wanita yang dicintainya [Q.s. an-Nisa’: 3]. Melarang berzina, apalagi menikah dengan sesama jenis. Karena itu, baik zina maupun sodomi, dan sejenisnya diharamkan dengan tegas. Pelakunya pun sama-sama dihukum dengan hukuman keras. Ibnu Abbas ra. menuturkan, Rasul saw. bersabda:
                                                        
«مَنْوَجَدْتُمُوهُيَعْمَلُعَمَلَقَوْمِلُوطٍفَاقْتُلُواالْفَاعِلَوَالْمَفْعُولَبِهِ »
“ Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, bunuhlah subyek dan obyeknya “.[1]
Terhadap pelaku transgender atau laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki nabi melaknatnya. Ibnu Abbas ra. mengatakan:
«لَعَنَرَسُولُاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- الْمُتَشَبِّهَاتِمِنَالنِّسَاءِبِالرِّجَالِوَالْمُتَشَبِّهِينَمِنَالرِّجَالِبِالنِّسَاءِ »
“ Rasulullah Saw, telah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita “[2]
Itu artinya, LGBT ini bukan fitrah. Bukan takdir, bukan kudrat. Jika LGBT ini fitrah, takdir dan kudrat, tentu Allah tidak akan menghukum keras pelakunya. Jadi, LGBT ini adalah penyimpangan perilaku dan suatu penyakit.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab LGBT, di antaranya : Pertama, Faktor keluarga. Didikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya memiliki peranan yang penting bagi para anak untuk lebih cenderung menjadi seorang anggota LGBT daripada hidup normal layaknya orang yang lainnya.Ketika seorang anak mendapatkan perlakuan yang kasar atau perlakuan yang tidak baik lainnya, maka pada akhirnya kondisi itu bisa menimbulkan kerenggangan hubungan keluarga serta timbulnya rasa benci si anak pada orang tuanya. Sebagai contoh adalah ketika seorang anak perempuan mendapatkan perlakuan yang kasar atau tindak kekerasan lainnya dari ayah atau saudara laki-lakinya yang lain, maka akibat dari trauma tersebut nantinya anak perempuan tersebut bisa saja memiliki sifat atau sikap benci terhadap semua laki-laki.
Akibat sikap orang tua yang terlalu mengidam-idamkan untuk memiliki anak laki-laki atau perempuan, namun kenyataan yang terjadi justru malah sebaliknya. Kondisi seperti ini bisa membuat anak akan cenderung bersikap seperti apa yang diidamkan oleh orang tuanya. Orang tua yang terlalu mengekang anak juga bisa malah menjerumuskan anak pada pilihan hidup yang salah.Kurangnya didikan perihal agama dan masalah seksual dari orang tua tua kepada anak-anaknya.Orang tua sering beranggapan bahwa membicarakan masalah yang menyangkut seksual dengan anak-anak mereka adalah suatu hal yang tabu, padahal hal itu justru bisa mendidik anak agar bisa mengetahui perihal seks yang benar.
Kedua, Faktor Lingkungan dan pergaulan.Lingkungan serta kebiasaan seseorang dalam bergaul disinyalir telah menjadi faktor penyebab yang paling dominan terhadap keputusan seseorang untuk menjadi bagian dari komunitas LGBT.beberapa point terkait dengan faktor ini adalah, seorang anak yang dalam lingkungan keluarganya kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, serta pendidikan baik masalah agama, seksual, maupun pendidikan lainnya sejak dini bisa terjerumus dalam pergaulan yang tidak semestinya. Di saat anak tersebut mulai asik dalam pergaulannya, maka ia akan beranggapan bahwa teman yang berada di dekatnya bisa lebih mengerti, menyayangi, serta memberikan perhatian yang lebih padanya. Tanpa disadari, teman tersebut justru membawanya ke dalam kehidupan yang tidak benar, seperti narkoba, miras, perilaku seks bebas, serta perilaku seks yang menyimpang (LGBT).
Masuknya budaya-budaya yang berasal dari luar negeri mau tidak mau telah dapat mengubah pola pikir sebagian besar masyarakat kita dan pada akhirnya terjadilah pergeseran norma-norma susila yang dianut oleh sebagian masyarakat.sebagai contoh adalah perilaku seks yang menyimpang seperti seks bebas maupun seks dengan sesama jenis atau yang lebih dikenal dengan istilah LGBT.
Ketiga, Faktor genetik. Beberapa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu faktor pendorong terjadinya homoseksual, lesbian, atau perilaku seks yang menyimpang lainnya bisa berasal dari dalam tubuh si pelaku yang sifatnya bisa menurun dari anggota keluarga terdahulu. ada beberapa hal yang perlu diketahui terkait masalah ini, seperti : Dalam dunia kesehatan, pada umumnya  seorang laki-laki normal memiliki kromosom XY dalam tubuhnya, sedangkan wanita yang normal kromosomnya adalah XX. Akan tetapi dalam beberapa kasus ditemukan bahwa seorang pria bisa saja memiliki jenis kromosom XXY, ini artinya bahwa laki-laki tersebut memiliki kelebihan satu kromosom. Akibatnya, lelaki tersebut bisa memiliki berperilaku yang agak mirip dengan perilaku perempuan.
Keberadaan hormon testosteron dalam tubuh manusia memiliki andil yang besar terhadap perilaku LGBT. Seseorang yang memiliki kadar hormon testosteron yang rendah dalam tubuhnya, maka bisa mengakibatkan antara lain berpengaruh terhadap perubahan perilakunya, seperti perilaku laki-laki menjadi mirip dengan perilaku perempuan.
Keempat, Faktor akhlak dan moral.Faktor moral dan akhlak yang dimiliki seseorang juga memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku LGBT yang dianggap menyimpang. Ada beberapa hal yang dapat berpengaruh pada perubahan akhlak dan moral yang dimiliki manusia yang pada akhirnya akan menjerumuskan manusia tersebut kepada perilaku yang menyimpang seperti LGBT, yaitu, Iman yang lemah dan rapuh. Ketika seseorang memiliki tingkat keimanan yang lemah dan rapuh, besar kemungkinan kondisi tersebut akan membuatnya lemah dalam hal mengendalikan hawa nafsu. Iman adalah benteng yang paling efektif dalam diri seseorang untuk menghindari terjadinya perilaku seksual yang menyimpang. Jadi dengan lemahnya iman, maka kekuatan seseorang untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya akan semakin kecil, dan itu nantinya bisa menjerumuskan orang itu pada perilaku yang menyimpang, salah satunya dalam hal seks.Banyak contoh yang bisa kita ambil sebagai pemicu rangsangan seksual seseorang. Misalnya semakin maraknya VCD porno, majalah porno, atau video-video lain yang bisa diakses melalui internet.
Kelima, Faktor Pendidikan dan pengetahuan tentang agama.Faktor internal lainnya yang menjadi penyebab kemunculan perilaku seks menyimpang seperti kemunculan LGBT adalah pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang agama yang masih sangat minim.Di atas dikatakan bahwa agama atau keimanan merupakan benteng yang paling efektif dalam mengendalikan hawa nafsu dan dapat mendidik kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Untuk itulah, sangat perlu ditanamkan pengetahuan serta pemahaman agama terhadap anak-anak sejak usia dini untuk membentuk akal, akhlak, dan kepribadian mereka.



[1]Hadits hasan : Hr. At-Tirmidzi ( 1456), AbuDaud ( 4462 ), Ibnu Majah ( 1561 ), Ahmad1/300 ) dan yang lainnya. Hadits itu dinilai shahih oleh Al Albani di dalam Irwa’Al Ghalil ( 2350 ).
[2]HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad

Fiqh LGBT

Oleh: Dr. Misno, MEI

A.  LATAR BELAKANG
Fenomena LGBT (Lesbi, Gay, Bisexual, dan Transgender) merupakan topik yang sangat kontroversial, bukan hanya dari sisi akademis, tetapi juga dalam realitas kehidupan sehari-hari. LGBT acap kali disepelekan dan dianggap sebagai subjek yang tidak penting dalam khazanah ilmiah, terlebih di komunitas keagamaan yang secara mutlak telah menfatwakan LGBT sebagai sesuatu yang haram. LGBT adalah persoalan sosial yang begitu nyata. LGBT ada di sekitar kita. Ada di mall, salon, sekolah, kampus, tempat remang-remang bahkan sekitar masjid. Televisi juga secara massif menayangkan acara dengan artis berperilaku menyimpang ini dengan target agar masyarakat menganggapnya biasa. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan tertanam di benak remaja kita bahwa berperan waria atau bebencongan ternyata bisa sukses, bisa kaya dan terkenal. Gerakan kaum LGBT agar diakui secara konsisten mereka lakukan sejak tahun 60an hingga sekarang terutama setelah beberapa Negara Eropa dan AS melegalkan pernikahan sejenis. Bahkan ada yang berpendapat bahwa LGBT adalah solusi bagi ancaman ledakan penduduk karena teracuni pemikiran Robert Maltus.[1]
Apalagi secara konstitusional telah melarang keberadaan dan aktivitas kaum LGBT melalui UU Pornografi pasal 5 ayat 3 Pasal ini pada intinya berbunyi tentang pelarangan atas tindakan seksual.
Fenomena LGBTdi Indonesia dari tahun ke tahun terus menggelinding. Isu ini selalu menjadi bola liar dan panas yang selalu mendapat sorotan banyak pihak. Tak terkecuali sekarang ini. Namun, seperti isu lain, pro-kontra juga bermunculan.
Perkembangan LGBTdi Indonesia dari masa ke masa, literasi tentang LGBT terserak di mana-mana. Namun, bisa dibilang teramat jarang yang mengungkap progres sejarah LGBT.
LGBT di Indonesia setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada yang menyebut dekade 1920-an. Namun, pendapat paling banyak menyebut fenomena LGBTinisudah  ada sekitar dekade 60-an. Lalu, ia berkembangpada dekade 80-an,90-an,dan meledak pada era milenium 2.000 hinggasekarang. Jadi, secara kronologis, perkembangan LGBT ini sesungguhnyatelah dimulai sejak era 1960-an.kalau dulu terkenalsentul dan kanti, kini sebutannya adalah Buci dan Femme[2].
Menurut  Dede Oetomo, Fakta dan data LGBT di Indonesia menyebut jumlah gay di Indonesia ada ratusan ribu orang. Bahkan ada yang menyebutkan 3 persen dari penduduk Indonesia adalah kaum LGBT[3]. Data itu diperoleh dari rilis Kementerian Kesehatan di Tahun 2016. Jumlah gay saat itu 760 ribuan orang, sementara  waria  28 ribu orang. “ Angka ini ketika dicari di internet juga tidak ada. Kalau lesbi tidak ada data, soal jumlah pasti tidak ada yang tahu. Ada yang bilang 3 persen dari   jumlah penduduk Indonesia “
Hanya saja menurut Dede tidak ada jumlah pastinya, karena tidak pernah bisa dihitung. Ini disebabkan mereka bersembunyi. Lantaran hukum dan  sosial Indonesia masih tidak menerima keberadaan mereka. Gay dan lesbian sudah lama bermukim di Indonesia. Tepatnya sejak zaman kolonial penjajahan Belanda. Namun isu LGBT tetap menjadi fenomena baru sampai sekarang. Akan tetapi pada sisi lain tidak bisa dinafikan bahwa komunitas  LGBT tersebut memang ada di tengah-tengah masyarakat.



[2] Republika.co.id, oleh ;  Rudi Agung P. Jurnalis ( penulis sejumlah buku antologi )
[3]Suara.com senin 06 Juli 2015 ( rgl 9 Januari 2017 jam 12 ; 25

Rabu, 31 Mei 2017

PENGEMBANGAN MAQASHID SYARIAH

PENGEMBANGAN MAQASHID SYARIAH SEBAGAI ALAT ANALISIS DATA DALAM PENELITIAN EKONOMI ISLAM
 Disusun Oleh:
Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI


A.  Latar Belakang
Analisis data dalam sebuah penelitian menjadi hal yang sangat urgen, bahkan ia menjadi jantungnya penelitian ilmiah. Analisis yang salah terhadap data yang ditemukan akan berhujung kepada kesalahan kesimpulan.Penelitian ekonomi Islam khususnya hukum ekonomi syariah yang menggunakan data kualitatif seringkali menggunakan analisis yang tidak tepat. Misalnya judul “Gadai Tanah dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah”, analisis yang digunakan seringkali hany sepintas lalu dan tidak fokus pada satu tool (alat) yang dijadikan sebagai pisau analisis.
Banyaknya penelitian ekonomi Islam yang menggunakan perspektif maqashid syariah menjadi persoalan berikutnya.Analisis yang terlalu general seringkali terjadi karena ketidakpahaman peneliti terhadap hakikat dari maqashid syariah. Belum lag penggunaannya yang tidak sesuai dengan data yang dianalasisnya. Lebih parahnya adalah teori maqashid yang sering digunakan adalah gabungan dari berbagai teori yang selalu disandarkan kepada Al-Ghazali atau Asy-Syathibi. Padahal apabila kita kaji lebih mendalam maka teori-teori mengenai maqashid syariah sangat banyak dan beragam, sehingga penggunaan yang tidak fokus akan menjadikan analisis data tidak valid.
Merujuk pada hal tersebut maka penelitian ini akan mengkaji mengenai pengembangan maqashid syariah sebagai alat analisis data dalam penelitian ekonomi Islam.

B.  Perumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang masalah, maka teridentifikasi beberapa permasalahan yang terkait dengan pengembangan maqashid syariah sebagai alat analisis data dalam penelitian ekonomi Islam. Adapun fokus penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1.      Bagaimana perkembanganpemikiran Maqashid Syariah di dunia Islam? 
2.      Bagaimana karakter masing-masing teori Maqashid Syariah dan siapa saja tokoh-tokohnya? 
3.      Bagaimana penerapan maqashid syariah dalam analasis data pada penelitian ekonomi Islam?

C.  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian, yaitu:
1.      Mengetahui perkembangan pemikiran Maqashid Syariah di dunia Islam.
2.      Menguraikan karakter masing-masing teori Maqashid Syariah dan tokoh-tokohnya.
3.      Menganalisis dan mengaplikasikan penerapan maqashid syariah dalam analasis data pada penelitian ekonomi Islam.

D.  Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki dua manfaat, yaitu manfaat secara teoritis dan secara praktis.Secara teoritis penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan ilmu pengetahuan khususnya berkaitan dengan analisis data dalam penelitian ilmiah.
Adapun secara praktis maka penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi seluruh pihak, yaitu:
1.      Mahasiswa yang melakukan penelitian dengan pendekatan maqashid syariahakan terbantu dengan standard analisis yang benar.
2.      Para peneliti, sebagai acuan dalam analisis data kualitatif dengan pendekatan maqashis syariah.
3.      Masyarakat, memperoleh kesimpulan yang komprehensif mengenai satu permasalahan ekonomi dengan pendekatan maqashid syariah.
                              
E.  Signifikansi Penelitian
Penelitian ini memiliki signifikansi dalam penelitian yang bersifat fundamental, yaitu merumuskan gagasan maqashid syariah sebagai analisis data dalam penelitian ekonomi Islam. Secara spesifik signifikansi dari penelitian ini adalah:
1.      Memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai analasis data dalam penelitian ekonomi Islam.
2.      Menjawab permasalahan yang ada dalam analisis data penelitian menggunakan data kualitatif.

3.      Sebagai acuan dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman yang bersumber dari para pemikir Islam klasik dan kontemporer.