Senin, 04 April 2011

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Oleh Ummu Reza


Kali ini penulis masih belum beranjak dari kalimat pepatah. Dari pepatah Jawa, sampai pepatah Indonesia. Dari witing tresno jalaran soko kulino, sawang sinawang, sampai si rumput tetangga yang lebih hijau. Kalau disambung-sambung, kayanya nyambung juga ya..

Sebenarnya arti kiasan dari rumput tetangga lebih hijau hampir sama dengan sawang sinawang. Di mana seseorang yang melihat keadaan dan kesenangan orang lain secara dzahirnya saja. Padahal belum tentu orang lain yang kita nilai bahagia, merasakan sama seperti penilaian kita. Bisa jadi orang lain juga merasakan susah hati seperti yang apa sedang kita rasakan, jangan melihat orang lain dari cover atau casingnya.

Seorang akhwat yang merasa hidupnya selalu dirundung duka, selalu mendapat ujian kesabaran, selalu merasa begini dan begitu, intinya seperti menyesali taqdir "mengapa Alloh selalu memberikan ujian kepadaku". Lalu melihat orang lain yang mempunyai suami yang alim, shalih, tekun, bersahaja, pokoknya bagus semua deh di mata orang yang menilai. Timbul dalam hatinya pertanyaan "mengapa saya tidak seberuntung dia, punya suami yang begini dan begitu". Padahal yang terjadi, bisikan syaitan telah masuk dalam hatinya dengan kata andai..."ah..seandainya aku begini, suamiku begitu...pastinya.....ah..seandainya..."


Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Manusia memang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki. Bila miskin, dia ingin kaya, di beri seribu, inginnya sejuta, di beri kelebihan harta, masih  ingin menjadi orang terkaya di dunia. Di beri istri yang apa adanya, dia mencari wanita yang bergaya, di beri istri yang jilbabnya panjang, dia mencari wanita yang jilbabnya modis, di beri istri yang masih muda, dia mencari wanita yang lebih tua, di beri suami yang sabar, dia mencari laki-laki yang lebih sabar, di beri suami yang lebih dewasa, dia mencari laki-laki yang lebih muda. dan yang terjadi bukan mendapat yang lebih tapi yang didapat kurang banget dari lebih. Alhamdulilllah kalau dapat yang pas-pasan, pas dia minta pas ada, pas kepingin pas dapat. kalau semuanya pas-pasan gimana? ilmunya pas-pasan, hidupnya pas-pasan, sampai makannya juga pas-pasan. Musibah, yang ada tinggal penyesalan.

Dalam kehidupan ini, akan selalu kita temui susah dan senang silih ganti. Apabila terlepas dari pada kesusahan yang satu, datang pula kesulitan lain. Kesenangan itu terletak antara dua kesusahan, dan kesusahan itu terletak antara dua kesenangan. Ada kenikmatan yang dibungkus dengan kesusahan dan ada pula kesengsaraan yang dibungkus dengan kesenangan. Di samping kesulitan itu ada kelapangan. Yang buruk itu ada faedahnya dan yang baik itu ada juga buruknya. Hanya orang yang bersifat ikhlaslah yang selalu memetik hasilnya.

Alloh tidak akan menguji di luar kemampuan hamba-Nya. Yakinlah kita bisa, menikmati apa yang kita miliki. karena sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik bagi Alloh. bahkan sebaliknya sesuatu yang menurut kita buruk itulah yang terbaik bagi Alloh. Apa yang terjadi dan apa yang kita miliki sekarang, itulah yang terbaik. Jika sudah mendapat yang terbaik, untuk apa lagi mencari yang baik?

Alloh subhanallohu wa ta'ala berfirman :
“...dan mungkin apa yang kamu benci itu adalah baik untukmu dan mungkin apa yang kamu sukai itu adalah buruk untukmu, Alloh lebih mengetahui dan sesungguhnya kamu tidak mengetahuinya”
(Al-Baqarah : 216)

 

Wallohu a'alam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...