Selasa, 31 Mei 2011

Ketika Semangat Menuntut Ilmu Meredup

Oleh Ummu Reza


Seorang penuntut ilmu hendaknya berhias dengan mahligai ketakwaan dalam zhohir dan bathinnya dan mengikhlaskan niatnya karena Allah. Makna ikhlas itu sendiri adalah meniatkan upaya dan usaha dalam menuntut ilmu untuk mengangkat kejahilan dari dirinya dan untuk memurnikan ibadah kepada Allah dengan cara yang benar.

Allah subhanallahu wa ta'ala berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’ lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kalian’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11).

Namun sebagai manusia terkadang semangat menuntut ilmu bisa turun, bisa naik atau tergantung mood. Saat semua terasa ringan, menuntut ilmu terasa lebih semangat, namun saat masalah dan problema menerjang, semangat menuntut ilmu pun redup. Lalu bagaimana mengatasinya?

Cerita tentang para ulama dan para imam rahimahumullah adalah sarana terbesar untuk menanamkan keutamaan dalam jiwa demi mengobarkan semangat dan memotivasi untuk kebaikan dan ketakwaan. Ibnu Katsir rahimahulloh bercerita tentang dirinya ketika beliau sedang menulis kitabnya “jami’ul masaanied”, “Konon aku terus menerus menulisnya di malam hari, sedang cahaya pelita yang menerangiku terang-redup hingga akupun menjadi buta karenanya.

Ja’far bin Durustuwaih berkata, “ Kami mengambil tempat duduk karena terlalu padat di sebuah majelis Ali bin Al-Madini waktu Ashar untuk kajian esoknya. Kami menempatinya sepanjang malam karena khawatir esoknya tidak mendapat tempat untuk mendengarkan kajiannya karena penuh sesaknya manusia. Saya melihat seseorang yang sudah tua di majelis tersebut kencing dijubahnya karena khawatir tempat duduknya diambil apabila ia berdiri untuk kencing.”

Ibnu Asakir ketika menyebutkan biografi seorang yang shaleh Abu Manshur Muhammad bin Husain An-Naisbury berkata, “Beliau orang yang selalu giat dan semangat dalam belajar, meski dalam keadaan fakir. Sampai-sampai beliau menulis pelajarannya dan mengulangi membacanya dibawah cahaya rembulan karena tidak punya sesuatu untuk membeli minyak tanah. Walaupun beliau dalam kedaan fakir, namun beliau selalu hidup wara’ dan tidak mengambil harta yang syubhat sekalipun.

Imam Syafi’I menceritakan kisahnya, “Dahulu aku menyimak guru yang mengajarkan para muridnya dan aku menghafal apa yang dikatakannya. Sedangkan ibuku tidak punya apa-apa untuk membayar guru. Aku adalah seorang anak yatim. Guruku itu juga membolehkanku untuk ikut bersamanya. Para murid menulis. Sebelum guru tersebut selesai dari mendiktekan, aku telah terlebih dahulu menghafalkan apa yang aku tulis. Setelah pulang, aku mengutip tembikar, pelepah kurma dan tulang unta. Aku menulis hadits padanya dan aku pergi ke tempat belajar sambil mencari sisa-sisa kertas dan aku menyalinnya hingga penuh gentong milik ibuku dengannya.

Imam syafi’i yang seorang yatim, miskin, yang hanya mampu menulis diatas sisa-sisa kertas, tulang dan pelepah kurma namun segala keterbatasan tersebut tidak membuat beliau mengeluh, putus asa dan berdiam diri dari menuntut ilmu. Perjuangan yang tak kenal lelah itu telah menjadikan beliau sebagai seorang yang memiliki ilmu yang mendalam hingga akhirnya beliau menjadi Imam kaum Muslimin.

Imam Bukhari bercerita tentang keadaannya ketika menuntut ilmu, “Suatu ketika aku pergi mengunjungi Adam bin Abi Iyas di ‘Asqalan, namun uang belanjaku tidak kunjung datang hingga aku terpaksa memakan rerumputan dan tidak seorangpun yang tahu hal itu. Hingga memasuki hari ketiga, tiba-tiba ada seorang lelaki tidak dikenal yang mendatangiku lalu memberiku sekantung uang dinar, sambil berkata, “Pergunakanlah uang ini untuk mencukupi keilmuanmu.”

Begitu cintanya para ulama terdahulu pada ilmu syar’i hingga mereka rela mengorbankan jiwa dan raga karena bagi mereka ilmu syar’i merupakan harta yang sangat berharga dan permata yang mahal. Ketika para salaf memahami hal ini, mereka merasa rugi jika tidak mendapatkannya atau bersedih karena kehilangan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu syar’i.

Mempelajari perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu akan menyalakan semangat yang padam kembali membara. Perjuangan mereka yang tak kenal lelah dan segala keterbatasan mereka baik moril maupun materil dalam menuntut ilmu telah menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mulia dari kalangan kaum Muslimin hingga saat ini. Para ulama salaf telah memberikan contoh yang baik dan teladan yang agung tentang bagaimana bersemangat dalam menuntut ilmu, meraihnya serta merindukannya. Mereka mengembara keluar dari negerinya dengan membawa bekal seadanya dan meninggalkan kenikmatan berkumpul bersama keluarga untuk berburu ilmu pada para ulama tanpa mengenal batas dimensi ruang dan waktu.

Jika motivasi kita mulai melemah ketika menuntut ilmu, maka ada baiknya kita menengok kisah-kisah para ulama besar sehingga dapat menumbuhkan kembali motivasi kita dalam menuntut ilmu syar’i.

Allah subhanallahu wa ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.”
(Hadits hasan diriwayatkan oleh sejumlah shahabat. Dishohihkan oleh Al-Albâny dalam Takhrîj Musykilatul Faqr, hal 80 dan dihasankan oleh Syaikh Muqbil –sebagaimana yang kami dengar dari beliau-. Dan As-Suyuthi mempunyai risalah tersendiri dalam mengumpulkan jalan-jalan periwayatan hadits ini).

Dari Abu Darda’ radhyallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan menuntunnya meniti salah satu jalan menuju jannah. Sesungguhnya para malaikat mengembangkan sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya seorang yang berilmu benar-benar dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan-ikan di kedalaman air. Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu di atas seorang yang beribadah adalah seperti bulan purnama yang melebihi bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang meraihnya maka dia telah mendapatkan bagian yang berlimpah." Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al-Fathur Rabbani, (I/ 149), Abu Daud (3641), Ibnu Majah (223), Ibnu Hibban (I/ 289) dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (6297).

Wallohu Ta'ala A'lam

www.kajianislamsumenep.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...