Jumat, 06 Mei 2011

Remaja, Kerja dan Rasa Tanggung Jawab



     Kebutuhan remaja kepada tanggung-jawab dan pekerjaan, tumbuh dari perobahan-perobahan khusus yang terjadi pada kehidupan remaja pada dimensinya yang berbeda-beda, akal, mental, sosial dan jasmani, dimana dia berkarekter istimewa (dari segi) konsepsi dan akal, dia itu mampu berfikir secara spirit, menggunakan symbol-simbol, dan memahami waktu (lampau, sekarang dan akan datang) dia itu mampu untuk membayangkan sesuatu sebelum terjadinya, dan oleh karena sebab itu remaja menjadi mampu untuk memikul tanggung-jawab, dan menjadi bertanggung-jawab dan dibebani tugas dari segi syariat, atau ditujukan (kepadanya) perintah dan larangan yang terdapat pada sumber-sumber syariat islam, serta bertanggung-jawab terhadanya. Dari segi perasaan dan kejiwaan yang berhubungan dengan kemampuan akal, remaja mulai sadar, peka dan berfikir pada derajat dan nilainya menurut dirinya dan menurut orang lain, atau berfikir pada bentuk keperibadiaanya yang sebenarnya, sebagaimana kenyataan dan sebagaimana yang dia inginkan, apakah dia diterima atau tidak diterima? Apakah dia kuat atau dia lemah? Apakah dia lulus atau gagal? Serta bagaimana dia berupaya untuk memperbaiki bentuk (seperti) ini? selanjutnya perasaan-perasaan ini berkaitan dengan kebebasan, penolakan, harga-diri, percaya diri, kehormatan, membenci rendah diri, penghinaan, penganiyaan, penghianatan dan kelemahan.
 masalah jasmani adalah (masalah) yang lain yang mendesak pemuda dan pemudi, tinginya badan, bobot, bentuk dan sebagian perannya, memberitahukan peralihannya dari kanak-kanak kepada (sifat) kelaki-lakian dan kewanitaan, dan seolah-olah mencari peran baru. Sesungguhnya dia bersiap untuk tugas dan missi, untuk tugas (sebagai) penanggung-jawab, kakak yang lebih besar, suami, bapak dan kepala keluarga dan lain-lain. Disamping dia mengamati untuk melakukan tanggung-jawab sampingan dan tugas-tugas yang sifatnya sementara. oleh karena itu remaja menghadapi kerisis pencarian jati diri, atau pencarian tentang nilai dan tugas yang munkin dia laksanakan, dan tentang posisi yang sebenaranya baginya dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, pertanyaan-pertanyaan (seperti ini) dan perasaan-perasaan remaja muncul pada tahun terakhir sekolah menengah pertama dan pada sekolah menengah atas, pada bentuk-bentuk sebagai berikut;
PEMUDA BERTANYA-TANYA DAN BERFIKIR:

     (Di rumah, saya makan, minum, tidur dan berfakaian. Perumpamaan saya adalah seperti saudara-saudaraku yang masih kecil, saya hidup pada jalan yang sama!! Akan tetapi mereka itu adalah anak kecil, lemah dan kekurangan, tidak mempunyai daya dan kekuatan!! Kepentingan mereka adalah perut dan badan mereka, makan manisan, pop corn dan minum sirup serta mereka tidak berfikir.....akan tetapi saya berbeda dari mereka....)
    
PEMUDI BERTANYA-TANYA DAN BERFIKIR:

     Di rumah, memang benar terkadang ibuku bermusyawarah dengan saya pada beberapa permasalahan, dan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan rumah, keluarga dan kunjungan-kunjungan, akan tetapi tidak sekalipun dia mengambil pendapatku, yang mengatur dan menjalankan satu urusan dia dan ayahku, sampai –sampai saya tidak tahu apa sebab dia mengambil/menjadikan pendapatku hanya sekedar pembicaraan saja.

MURID MENYEMBUNYIKAN (PERASAAN) DALAM DIRINYA:

     Guru ini diktator, memaksakan kehendak, sampai-sampai ketika murid-murid mendiskusikan cara analisa yang baru dia menyuruhnya untuk diam, dan tidak memberikannya kesempatan untuk mengemukakan pendapat, dia mempunyai kedengkian dan tidak ada kepedulian,

ANAK LAKI-LAKI BERBICARA KEPADA DIRINYA.

     Bapakku ketika kami berada pada suatu perjalanan bersama dengan orang lain dia bertanya kepadaku, apa yang kamu inginkan? Bagaimana pendapatmu pada hal ini (tentang hal-hal) dari urusan perjalanan? Kapan kamu suka untuk kembali? Akan tetapi di rumah dan di belakang orang-orang, saya seolah-olah dinding dari dindin-dinding rumah tidak punya pendapat dan tidak ada musyawarah, serta saya tidak bisa berbuat. Sampai pada kebutuhan-kebutuhan rumah, dia tidak mewakilkannya kepadaku, (yang ada) hanya perintah semata, lakukan atau jangan lakukan.

ATAU SEPERTI DIALOG ANTARA DUA REMAJA:

Halid: Dimana kamu berada tadi malam setelah magrib?
Fahd : bersama bapakku. Kami pergi membeli sayur-sayuran dan buah-buahan untuk di rumah, kamu percaya?.
Halid: apa?
Fahd : bapakku tidak membiarkan saya turun dari mobil, dan tidak membiarkan saya membeli apapun, dia berkata sesungguhnya penjual menguasai kamu, kamu tidak tahu mereka, perkataan ini adalah dia ucapkan sejak zaman yang lalu sejak saya masih kecil.
Halid: Kamu masih dalam keadaan yang baik dan interaksi terhadapmu masih baik. Apakah kamu percaya?
Fahd : apa?
Halid: kemu percaya! bapak saya memukul saya dengan tongkat sedangkan saya sekarang pada umur 17 tahun, dia berkata: belajar, ulangi pelajaran, seolah-olah saya tidak tahu kemaslahatan diri saya, dan dia selalu mencaci saya ditengah saudara-saudaraku, kerabatku, dan tidak mempercayakan kepada saya sesuatu apapun, sampai untuk memahamkan/memberi pengertian, dia tidak memahamkan dengan kata-kata, segala sesuatunya dengan pukulan, umpatan dan kemarahan.

Sesunguhnya hal itu adalah gambaran yang sebenarnya, bukan khayalan, kami metahui(nya) melalui pembauran/interaksi kami dengan remaja dan bertanya tentang mereka, identifikasi terhadap cara bergaul dan metode pendidikan mereka. Sebagian situasi ini diperoleh melalui penelitian-penelitian lapangan yang mengungkap pendapat dan perasaan kelompok-kelompok remaja pada sekolah menengah atas. Hal itu adalah bentuk-bentuk yang menumbuhkan kebutuhan remaja, untuk dipercaya, kepada penugasan dengan sebuah tanggung-jawab. Dan jika yang sang pencipta, yang maha suci telah menugaskan dan mengamanahkannya pada (remaja) shalat, puasa, hajji sementara hal itu adalah ibadah yang paling agung, dan pada kejujuran, amanah dan kebaikan dan lain-lainnya, dia dihisab atas yang demikian itu, maka kenapa dia tidak diamanahi oleh bapak, ibu dan pengasuh mereka atas sebahagian bentuk transaksi harta/keuangan, kegiatan-kegiatan perdagangan, tugas-tugas keluarga dan tanggung-jawab sosial dan posisi pemimpin? Kenapa mereka tidak melatih mereka terhadap yang demikian itu, walaupun secara bertahap dari yang sedikit kepada yang banyak,  dari yang gampang kepada yang susah dari yang sederhana kepada yang rumit?
Sesugngguhnya remaja dengan kecenderungan (yang ada pada) phasenya, dia tidak berhenti dari kecenderungan berfikir, pemikiran pada diri, nilai, tanggung-jawab serta perannya yang baru pada jenjangnya yang akan datang, maka apabila demikian itu terhenti, maka dia akan menyalurkan kecenderungan ini pada pekerjaan-pekerjan yang lain yang tidak terpuji, seperti hanyut/berlebih-lebihan dalam olah-raga, (baik) sebagai pemain, pendukung (maupun) suporter, pada seni, perkumpulan-perkumpulan (untuk) mengobrol, senda gurau dan hiburan, dan tenggelam dalam membaca majalah-majala dan kitab-kitab serta cerita-cerita kisah sehari-hari, menyibukkan diri dengan menonton serial televise dan kaset-kaset video serta bertukar fikiran dan berdiskusi seputar hal itu, menyibukkan diri dengan mengumpulkam photo-photo, prangko, lukisan, boneka, souvenir, bermain catur dan kartu, serta perlombaan gila dengan (balapan) mobil, permainan-permainan akrobatik dan pacaran, serta menyibukkan diri dengan etika buka-bukaan dan percintaan dan lain-lain ditambah dengan apa yang terjadi di tengah-tengah beberapa lingkungan dari kebiasaan (mendengar) musik, bernyanyi, menari, pesta, konser musik dan lain-lain[1].
Semua jenis kegiatan dan aktifitas ini menuntun kepada kerusakan remaja dan memudahkan penyimpangan, memadamkan fitrah dan perasaan, mewarnainya dengan senda gurau dan hal-hal yang tidak bermanfaat serta membiasakannya untuk bersandar kepada orang lain pada pengambilan pendapat, keputusan hidup, nafkah dan mata pencaharian.  

CONTOH-CONTOH PENDIDIKAN TANGGUNG-JAWAB DAN KEMANDIRIAN:

     Sungguh banyak penelitian yang memperjelas fakta (tentang) kesandaran akan tanggung-jawab dan kebebasan/kemandirian pada jenjang remaja, serta faktor-faktor yang mendorong terhadap (tanggung-jawab dan kebebasan) sebagaiman telah kita kemukakan, yaitu kebutuhan-kebutuhan yang ditopang oleh perasaan dari dalam (diri), kesiapan jiwa, sampai kepada faktor sosial dan lingkungan yang mendukung kecenderungan kepada tanggung-jawab dan pelaksanaannya atau (justeru) menghalanginya. Dan disini kami tidak bertujuan untuk menyodorkan semua penilitian-penilitian kejiwaan[2] pada masalah ini, akan tetapi kami kemukakan satu contoh, kemudian kita berlalu untuk memperlihatkan contoh-contoh tanggung-jawab yang mengandung inisiatif dan pro-aktifan dalam Al-Qur'an dan sejarah. Pada pada penelitian yang diadakan oleh Barfemberz برنفنبرز menunjukkan adanya hubungan yang positif, antara kesadaran remaja pada tanggung-jawab dari satu segi dan tingkatan kasih-sayang bagi orang-tuanya dari segi yang lain, atau setiap didapatkan interaksi yang  mengambil metode kasih-sayang (saling tolong-menolong, musyawarah dan dialog) antara remaja dan orang-tuanya, didapatkan pula bahwasanya remaja akan lebih banyak kesadaran pada tanggung-jawab, dan hubungan ini akan berbalik kepada hubungan yang negative ketika remaja merasakan pengucilan, penyia-nyiaan dan kekerasan dari fihak kedua orang-tuanya. Ini menunjukkan pentingnya interaksi dengan remaja, dan metode hubungan/interaksi, yaitu dengan pembentukan keperibadian mereka.
     Contoh-contoh praktis yang islamy bagi pelaksanaan tanggung-jawab oleh remaja, kebebasan dan keikut-sertaan dalam pekerjaan dan (pengambilan) pendapat banyak dan beragam, pada semua segi dan tingkatannya: diantaranya apa yang dijelaskan oleh Al-Qur'an tentang kisah dan kehidupan para nabi. Termasuk  apa yang dicatat oleh sejarah kehidupan Rasul dan para sahabatnya. Dan apa yang ditulis oleh sejarah tentang kehidupan para pemuda dan pemudi.
     Dalam kisah-kisah Al-Qur'an kita dapatkan sejumlah peran dan contoh-contoh, kami tunjukkan diantaranya, kisah Ibrahim dan kisah Yusuf Alaihimassalam dan  kisah Asahabul-Kahfi.
     Junjungan kita Ibrahim mengahadapi dan memerangi kebatilan dan menyanggah (pertanyaan kaumnya) dengan dialog, debat dan inisiatif, seolah-olah dia mengumumkan tanggung-jawab dan kemandiriannya sementara dia pada umur mudanya, dia merasa sebagai satu ummat walaupun dia sendirian. semua ini (terlaksana) dengan bantuan dan petunjuk Allah yang tiada seorangpun yang bisa berlepas diri darinya, lihatlah kepada percakapannya dengan kaumnya setelah dia menjadikan berhala-berhala mereka hancur berantakan, Allah Taala berfirman:

Mereka berkata: "kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". Mereka berkata: "(kalau demikian) bawala dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". Mereka berkata: " Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara[3]".

     Dan kisah Nabi Allah Yusuf, Allah menjelaskan keadaan dan perannya semenjak tumbuhnya kuku-kukunya pada umur kanak-kanak dan pada masa mudanya, dalam kisahnya kamu dapatkan inisiatif dan dialog bersama bapaknya ketika dia melihat mimpi (dalam tidurnnya), Allah Taala berfirman:
    
     (Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "wahai ayahku sesungguhnya akau bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya bersujud kepadaku". Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat maker (untuk membinasakan)mu sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia[4]".

     Kamu mendapatkan kesabaran, keberanian, independesi, keteguhan, pada prinsif pada jenjang-jenjang umurnya yang berbeda-beda, pada keadaan dan situasi yang paling gelap/sesat sekalipun, situasi perbudakan, situasi fitnah dan godaan uantuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, dalam keadaan cobaan penjara dan siksaan, dalam keadaan difitnah oleh raja dan penguasa.
 Pada kisah Ashabul-Kahfi yang menggunakan akal dan  kemampuan analisa mereka, mereka berfikir dan mengahayati, mereka bersegera untuk mengambil keputusan  utama dalam hidup mereka, dan mereka tidak menjadi pengikut dan bersandar kepada orang lain, atau bertaqlid terhadap bapak dan kaum(nya) tanpa pengetahuan. Allah Taala berfirman:

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk, dan kami telah menguji hati mereka diwaktu mereka berdiri lalu mereaka berkata: Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". Kaum kami telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebahagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu[5].

     Dalam Al-Qur'an (terdapat) banyak kisah-kisah tentang peran orang mu'min, laki-laki dan wanita serta pertumbuhan dan pelaksanaan tanggung-jawab mereka, kesigapan dan keteguan mereka, diataranya kisah Musa Alaihissalam, pertumbuhan dam peranannya. Dan kisah tentang Maryam pertumbuhannya, kesucian dan keteguhannya. Dan kisah Ismail dan Yahya Alaihimassalam dan lain-lain.  Al-Qur'an tidak berpanjang lebar pada sebahagian kisah ini akan tetapi hanya menunjukkan posisi dan tempat penting yang mengandung ibrah. Diantaranya keteguhan pada kebenaran, kesadaran akan tanggung-jawab, independensi/kemandirian dan situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan.
     Dan adapun Rasulullah SAW. maka sungguh beliau telah berkembang/tumbuh sebagai anak yatim, beliau berada dibawah tanggungan kakeknya Abdul Muttalib kemudian pamannya Abi Talib dan tumbuh diatas harga diri, hoby bekerja, bersandar kepada diri sendiri dan melaksanakan tugas/tanggung-jawab[6].
     Beliau bertekad untuk ikut serta dengan pamannya (dalam) kesusahan hidup, karena Abu Talib mempunyai banyak anak dan sedikit harta, ketika dia memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Syam, mengharapkan keuntungan dan perdagangan, beliau memutuskan untuk ikut bersamanya, dan umurnya ketika itu adalah sekitar tiga belas tahun.
     Rasulullah sudah terbiasa dengan kehidupan bekerja dan membanting tulang, tidak menjadi kebiasaannya duduk, istrahat dan bersenang-senang, adalah para Rasul sebelum beliau makan dari hasil kerjanya, Rasulullah menyibukkan diri dengan beternak kambing pada masa mudanya, diriwayatkan oleh Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah SAW.bersabda:

Tidaklah diutus seorang rasul kecuali dia mengembala kambing. Maka sahabatnya berkata kepadanya: dan anda? Maka beliau menjawab: ya, saya telah mengembalakannya atas (imbalan) beberapa Qirat untuk penduduk Makkah[7].
     Rasulullah SAW. menyibukkan diri pada perdagangan, beliau berangkat ke Syam sebagai pekerja pada harta milik Hadijah semoga Allah meridhoinya sebelum menikah dengannya, adalah dia terkenal dengan kemampuan, pengalaman, kejujuran dan amanahnya, sungguh beliau telah mendapatkan keuntungan pada perdanggannya yang terakhir lebih banyak dari yang sebelumnya bersama pamannya Abu Talib.
     Sesungguhnya kehidupan yang keras dan dinamis ini menunjukkan pertumbuhan yang baik dan metode yang ideal dalam mendidik diri, dan membiasakannya pada kesungguhan, bekerja dan membanting tulang, serta melatihnya atas tugas, konfrontasi dan situsi yang beragam. Maka adapun menggembala, bepergian dan perdagangan adalah kesempatan praktis yang potensial untuk menjalani bentuk-bentuk kehidupan yang beragam dari yang gampang dan susah, yang lembut dan keras, untung dan rugi, kenyang dan lapar. Dan untuk menjalankan banyak tugas, seperti penggembala, buruh, pimpinan rombongan, pengelolah barang dan juru runding perdagangan. Sesungguhnya hal itu adalah contoh pada pertumbuhan yang normal pada kekuatan dan keberaniannya, pada ketulusan dan kesuciaanya.
     Dan adapun contoh-contoh pada kehidupan sahabat,  sangat banyak, karena pemuda dan pemudi yang terdidik dalam Islam dan dalam bimbinga Rasulullah SAW. sangat banyak dan tidak memungkinkan untuk menjelaskan mereka dan sejarahnya (secarah kesuluruhan) pada tempat ini, akan tetapi kami tunjukkan kepada dua contoh:
     Inilah Ali bin Abi Talib semoga Allah meridhoinya, adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW. dari (golongan) anak-anak, sedangkan umurnya mendekati  tahun kesepuluh, pada waktu itu dia telah menangung urusan-urusan dirinya, walaupun dia mendapatkan penolakan dan pengingkaran terhadapnya, Dia bersembunyi dalam shalatnya bersama Rasulullah SAW. di jalan-jalan berbukit di Makkah dari bapaknya, paman-pamannya, dan dari keseluruhan kaumnya. Bagi Ali tugas-tugas tertentu yang dibebankan Rasulullah SAW (kepadanya). yang berkaitan dengan dakwah dan orang-orang yang baru masuk Islam, Rasulullah bermusyawarah dan mengambil pendapatnya dalam acara-acara yang dihadiri orang banyak, tidak tinggal bersama Rasulullah SAW. di Makkah ketika waktu hijrah (tiba) kecuali Abu Bakar dan Ali bin Abu Talib, dimana dia menetap atas perintas dan penugasan Rasulullah SAW. padanya, (selama) tiga hari, untuk menunaikan titipan dari rasulullah SAW. yang ada padanya untuk orang-orang, sampai ketika dia telah selesai dari (tugas)nya dia menyusul Rasulullah SAW. Sungguh dia telah terbiasa pada keberanian, jalanya adalah kejantanan dan kesigapan,  dia adalah orang pertama yang berduel (perang tanding) pada perang Badar sebelum dimulai peperangan, ketika kedua pasukan telah berhadapan, dia berduel dengan Al-Walid bin Utbah bin Rabiah lalu dia membunuhnya dan dia melompat bersama pamanya semoga Allah meridhoi keduanya kepada Utbah bin Rabiah dan keduanya membunuhnya.
     Tidak ada keraguan, bahwasanya pertumbuhan dan didikan (pada diri) Ali paling  besar pengaruhnya terhadap sifatnya, kekuatan, keberanian, penerimaan tugas dan pengambilan keputusan-keputusan yang jitu.
     Inilah Usama bin Zaid, pemuda yang masih belia ikut serta dalam perang Handaq sedangkan dia adalah anak lima belas tahun, Rasulullah juga bermusyawarah dan meminta pemdapatnya pada acara-acara yang beragam, sungguh Rasulullah mengangkatnya sebagai pimpinan dalam pasukan ke negeri Syam dan memerintahkannya untuk mengendarai kuda pada ujung tanah tandus dan rata dari bumi Palestina, lalu orang-orang bersiap-siap dan semuanya keluar bersamanya sedangkan didalamnya terdapat pembesar kaum Muhajirin dan Anshar, maka ketika mereka terlambat keluar kerena sakitnya Rasululllah SAW. maka Rasulullah menganggap mereka terlambat untuk keluar dan mengecam mereka terhadap apa yang mereka ucapkan dari kebeliaan umur Usamah dan terhadap perkataan-perkataan mereka terhadap kepemimpinannya terhadap pembesar-pembesar sahabat[8], Abu Bakar telah mengirim pasukan Usamah setelah Rasulullah SAW. wafat. sungguh Rasulullah SAW. berpandangan jauh, melaksanakan pendidikan dengan hikmah dan kebijaksanaan, Rasulullah SAW. mengetahui/memahami sahabat-sahabatnya, sungguh mereka telah terdidik di dalam sekolahnya, beliau mendidik sebahagian mereka sementara mereka masih anak kecil dengan nasehat, latihan dan memberinya tugas, sampai-sampai mereka bisa untuk menunaikan tugas orang dewasa sedangkan mereka pada umur muda dan belia, siapakah yang (bisa) merusak kemampuan kepemimpinan dan pengalaman Ali dan Usamah, semangat  dan kesiapan keduanya untuk memikul tangung-jawab serta mengambil keputusan pada saat-saat genting?
     Pemuda (dari golongan) sahabat yang berjihad banyak (jumlahnya) mereka menghunus pedang secara dini, mereka menerjang kematian dalam keadaan masih belia, mereka mengenal kehidupan melalui peran keberanian dan kejantanan, dengan (datangnya) umur baligh mereka memulai kedalaman kehidupan jihad, apatalagi dengan kehidupkan mata-pencaharian; jika kamu ingin, bacalah kutifan kecil ini tentang perang Uhud, kamu akan melihat keajaiban:
    
(Pada hari itu Rasulullah SAW.membolehkan Samura bin Jundub, dan Rafi' bin Hudaij dua saudara laki-laki Bani Haritsah, keduanya adalah anak berumur lima belas tahun, dan beliau telah menolak keduanya (sebelumnya), maka dikatakan bagi beliau: wahai Rasulullah sesungguhnya Rafi sangat berkeinginan maka beliau membolehkannya, maka tatkala beliau membolehkan Rafi' dikatakan kepada beliau: wahai Rasulullah sesungguhnya Samura membanting Rafi. Maka beliau membolehkannya. Rasulullah menolak Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar bin Hattab, Zaid bin Tsabit, Albara bin Azib, Amr bin Jazim dan Usaid bin Zahir, kemudian membolehkan mereka pada perang Handak sedangkan mereka anak-laki Umur lima belas tahun).[9]



[1]  Disini kita tidak mengemukakan hokum syariat atas kegiatan-kegiatan ini, maka diantaranya ada yang boleh dan diantaranya ada yang haram, apakah haram dengan sendirinya atau karena apa yang dimasukkan didalamya, akan tetapi kita tunjukkan kepada pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermakna yang disibukkn dengannya atau remaja menyibukkan diri dengan dengan pekerjaam –pekerjaan pada umur yang merupkan jenjang yang paling banyak membutuhkan tanggung-jewab dan kegiatan-kegiatan ini mempunyai sifat salah satu dari dua sifat atau dua sifat secara bersamaan.:
1-       senda gurau dan pekerjaan tidak bermakna.
2-       Negatifisme, yaitu: bahwasanya seseorang menerima saja, dan terpengaruh tanpa memberi pengaruh atau berdiskusi, diantaranya seperti menonton televise, video dan (membaca) majalah dan lain-lain.

[2]  Bagi siapa yang ingin membaca susuatu dari penelitian-penelotian ini memunkinkan dia untuk merujuk kepada Dr. Ibrahim Qasyqusy:Sikolojiyah Al-Murahaqah, halaman 318-322.
[3]  Surat Al-Anbiya, ayat 60 s/d 63.
[4]  Surat Yusuf: ayat 4 s/d 5.
[5] Surat Al-Kahfi, ayat 13 s/d 16.
[6]  Lihat Muhammad Al-Gazali: Fiqhussirah, halaman 68-70.
[7]  Diriwayatkan oleh Bukhari.
[8]  Abdussalam Harun, Tahzib Siiratu Ibnu Hisyam, halaman 327-337.
[9]   Abdussalam Harun, Tahzib Siiratu Ibnu Hisyam, halaman 195.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...