Selasa, 07 Juni 2011

Akulturasi Islam dengan Hindu dalam Arsitektur Masjid


Pertimbangan memadukan unsur–unsur budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam, sudah menunjukkan adanya akulturasi dalam proses perwujudan arsitektur Islam, khususnya di Jawa. Apalagi pada awal perkembangan agama Islam di Jawa dilakukan dengan proses selektif tanpa kekerasan, sehingga sebagian nilai-nilai lama masih ada tetap diterima untuk dikembangkan.
Setelah kerajaan Majapahit runtuh, era baru kerajaan Islam pun mulai muncul di bumi Nusantara. Ajaran Islam yang masuk tanpa kekerasan bersifat terbuka terhadap unsur – unsur kebudayaan lama yang ada. Karena itulah wujud arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, faktor lingkungan serta adat istiadat masyakakat setempat.
Sebelum membangun Masjid Demak, Sunan Kalijaga berdiri di tengah – tengah lahan tempat masjid akan didirikan sambil merentangkan tangan . Tangan kirinya tertuju ke arah bumi dan tangan kanannya tertuju arah kiblat. Sikap ini dilakukannya dengan maksud, bahwa dalam berarsitektur kita harus memperhatikan kaidah atau nilai yang sudah ada di masyarakat dan memikirkan kaidah baru yang akan dimasukkan. Saat itu, sudah ada adalah kaidah Hindu dan Buddha yang sudah meng-Indonesia dan kaidah Islam merupakan kaidah–kaidah baru yang akan dimasukkan, kaidah–kaidah inilah yang dipadukan dengan baik dalam karya aesitektur Islam sehingga tidak terjadi benturan budaya.
Perkembangan agama Islam di Indonesia makin pesat sejak kekuasaan Kerajaan Majapahit makin Menyurut. Meskipun Majapahit masih bertahan, suasana kerajaan diwarnai pertikaian dan perebutan kekuasaan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh bupati–bupati di daerah pesisir yang telah beragama Islam melepaskan diri dan berontak terhadap kekuasaan Majapahit. sekitar 1518, Dipati Yunus yang berkuasa di Demak menyerang Majapahit dan Majapahit harus menerima kekalahan. Menyusul kemudian sisa–sisa wilayah kekuasaan Majapahit di Panarukan membuat perjanjian dengan kerajaan Malaka pada 1528, maka sejak itulah kemegahan dan kejayaan Majapahit tenggelam.
Setelah Kerajaan Majapahit tenggelam era baru kerajaan Islam pun mulai muncul di bumi Nusantara. Ajaran agama Islam yang masuk tanpa kekerasan rupanya juga bersifat terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan lama, yang ada sebelum Islam masuk. Karena itulah wujud arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, faktor lingkungan serta adat istiadat masyarakat setempat.
Masjid Agung Demak di Jawa Tengah misalnya, mempunyai nilai historis cukup penting berkaitan dengan sejarah perkembangan agama Islam di Jawa. Legenda–legenda muncul dari sejarah perkembangannya yang kemudian menempatkannya pada kedudukan yang keramat bagi masyarakat yang menyakininya . Bangunan masjid ini berdiri di atas lokasi sekitar alun–alun kota Demak . Wujud arsitekturalnya menunjukkan akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayan Hindu saat itu atap bangunannya runcing ke atas dengan tiang–tiang penopang yang besar–besar dan tinggi. Motif–motif hias tiang bangunannya nampak berhubungan dengan kebudayaan Majapahit .
Kemudian pada Masjid Agung – Menara Kudus, pembauran Kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam nampak jelas. Kekhasan Masjid Agung Menara kudus adalah adanya bangunan menara atau minaret sebagai kelengkapan masjid untuk penyampaian adzan menrut waktu-waktu sholat. Wujud bangunan menara dan adanya wujud bangunan candi inilah yang bersal dari kubudayaan Hindu. Ciri bangunan Hindunya lebih dipertegas dengan konstruksi bangunan yang tersusun dari bahan batu bata dengan pola bangunan kepala (mahkota) – badan kaki. Sedangkan ciri bangunan Islamnya adalah masjid sebagai bangunan induknya.
Penampilan keseluruhan masjid ini merupakan satu kesatuan dalam satu kompleks bangunan. Tetapi uasaha mempersatukan unsur Hindu dan Islam pada Masjid menara Kudus tidaklah dilakukan melalui seleksi ketat, sehingga tampak kurang adanya kesan saling mendukung antara bentuk yang satu dengan bentuk yang lainnya. Hal ini menyebabkan secara arsitektural tidak terlihat kesan menyatu antara unsur candi, bentuk gerbang yang bercorak Majapahit dengan bentuk kubah masjid yang menjadi ciri arsitektur Islamnya. http://balimuslim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...