Minggu, 05 Agustus 2012

Dinasti Abbasiyah : Prestasi dan Kejayaannya

Oleh : Aswandi


Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M, Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Era kepemimpinan khalifah kedua, Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M), menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya.Yaitu; Pertama, menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah; Kedua, meninggalkan Al-Anbār dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru, yang beberapa saat kemudian menjadi lokus aktivitas ekonomi, budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu.
Langkah-langkah penting yang diambil Al-Mansūr tersebut dan efek besar yang ditimbulkannya terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li al-dawlah al-`Abbasiyah).
            Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan, Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan, bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah. Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam.
Demikian dengan gerakan pembukuan (tasnīf) dan kodifikasi (tadwīn) ilmu tafsir, hadits, fiqh, sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup signifikan di era Al-Mansūr pula. Konon, sebelum masa itu, para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi, sehingga tidak mengherankan jika Al-Qanūji secara tegas menyebut Al-Mansur sebagai khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam, setelah sebelumnya terabaikan oleh para khalifah Bani Umayyah.
Namun betapapun pentingnya peranan Al-Mansūr, kemajuan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah pada hakekatnya tidak datang dari ruang hampa, melainkan pada titik yang paling penting merupakan buah dari pengaruh konsep-konsep dalam ajaran Islam itu sendiri. Hal ini diakui pula oleh beberapa penulis Barat semisal Vartan Gregorian dalam bukunya Islam: A Mosaic, Not a Monolith.
Kesimpulan tersebut jika ditilik dari perspektif kajian sejarah peradaban berkesesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa semangat yang dibawa oleh konsep keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan élan vital dan menjadi unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban.
Di samping itu, faktor lain yang secara lebih lanjut turut mempengaruhi kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah adalah interaksi masif kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir), Suriah, serta wilayah Asia Barat, khususnya Persia.
Singkat kata, tidak lama setelah berdirinya, Dinasti Abbasiyah dengan cepat telah mampu menciptakan sebuah kemajuan ilmu dan peradaban yang menurut Prof. Dr. Ahmad Syalabi terwujud dalam tiga sektor yaitu kegiatan
1.      Kegiatan menyusun buku-buku ilmiah,
Kegiatan menulis buku-buku dibagi tiga tingkat yang masing-masing tingkatannya mempunyai keistimewaan.
Tingkat pertama merupakan tingkat yang paling mudah dan rendah ialah mencatat idea tau percakapan atau sebagainya disuatu halaman kertas yang berasingan atau dua rangkap, asli dan salinannya.
Tingkat kedua, yaitu tingkat pertengahan, merupakan pembukaan ide-ide yang serupa atau hadist-hadist Rasul dalm satu buku. Pada masa inilah kitab-kitab fiqih, hadits-hadist, sejarah dan lain-lain dihimpun dalam satu buku.
Tingkat ketiga, yaitu tingkat yang paling tinggi, ialah tingka penyusunan yang lebih halus daripada kerja pembukuan, karena ditingkat ini segala yang sudah dicatat diatur dan disusun dalam bagian-bagian bab-bab tertentu serta berbeda satu sama lain. Diantara penyusun yang terkemuka dizaman tersebut adalah Imam Malik yang menyusun kitab Al Muwattha’, Ibnu Ishaq penyusun sejarah hidup Nabi SAW, Abu Hanifah menyusun fiqih dan pendapat ijtihad. Khalifah Abu Ja’far Al Manshurlah yang memainkan peranan penting dalm mengarahkan ulama dakm bidang ini.

2.      Penyusunan ilmu-ilmu Islam
Ilmu-ilmu islam ialah ilmu-ilmu yang muncul ditengah-tengah suasana hidup keislaman berkaitan dengan agama dan bahasa Al-Quran. Sebagian dari penyusun menamakannya Ilmu Naqli (ilmu salinan), karena setiap penyeliduk dilpangan ii bertugas menyalin dan meriwayatkan apa yang diterimanya dari satu golongan lain dan seterusnya sehingga sampai pada sumber aslinya yaitu Rasulullah SAW. Begitu juga halnya ahli bahasa.
Berikut adalah sebagian dari ilmu-ilmu islam yang telah mengalami perubahan dan perkembangan besar di zaman pemerintahan Abbasiah pertama.
·         Kelahiran Ilmu Tafsir dan Pemisahannya dari Hadist.
Boleh dikatakan bahwa pada zaman Abbasiah yang pertama ini telah melahirkan ilmu tafsir Al-Quran dan pemishannya dari ilmu hadist.
·         Ilmu Fiqh dan Mazhab-Mazhabnya
Diantara kebanggaan zaman Abbasiah pertama adalah terdapatnya empat Imam Fiqih yang besar ketika itu. Mereka itu ialah Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Malik (179 H), Imam Syafi’I (204 H), dan Imam Ahmad Bin Hambal (241 H).
·         Nahwu dan Aliran-Alirannya
Zaman abbasiah pertama sangat kaya dengan ahli-ahli nahwu bahasa Arab yang terbagi kepada dua aliran terbesar; aliran Basrah dan aliran Kufah. Dianatara rokoh-tokoh aliran nahwu Basrah ketika itu ialah Isa bin Umar As-Tsaqafi (149 H), Al-Akhfasy (177 H) Sibawaih (180 H), Yunus bin Habib (182 H). diantara tokoh nahwu aliran Kufah ialah Abu Ja’far Ar-Ruasi, Al Kisaa’I (182 atau 183 atau tahun 186 H, tarikh wafatnya menurut Ibnu Khallikan jilid I, halaman 331 atau tahun 189 H menurut sumber-sumber yang lain) dan AL-Farra’ (208 H).
·         Sejarah dan Kelahirannya
Sebagaimana hadist ini merupakan induk dari ilmu tafsir, ia juga menjadi induk dari ilmu sirah ( sejarah hidup Nabi SAW) para Sahabat dan tabiin telah meriwayatkan hadist-hadist tentang kehidupan Rasulullah SAW.

3.      Terjemahan dari Bahasa Asing
Sesungguhnya kebangkitan pikiran dikalangan kaum Muslimin pada masa Abbasiah pertama (780-848) secara terang bergantung kegiatan yang luas dibidang terjemahan dari bahasa sansekerta, Suriani. dan Yunani. pada tahun 762 M, Khalifah Al-Manshur telah meletakkan batu pertama bagi ibu kotanya yang baru, yaitu Baghdad, dan telah menghimpun golongan cerdik pandai diberbagai lapangan serta menggalakkan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan sastra dari dari bahasa-bahasa lain ke bahasa Arab.
            Pengaruh gerakan terjemahan ini sangat mempengaruhi kemajuan dan perkembangn ilmu umum, terutama dibidang astronomi, kedikteran, filsafat, kimia, dan sejarah. Dalam bidang astronomi kita mengenal Al-Farazi sebagai asronom islam pertamayang pertama kali menyusun astrolabe. Al-Fargani yang menulis ringkasan ilmu astronomi. Dalam bidang kedokteran Al-Razi, Ibnu sina dengan karyanya yang menjadi rujukan barat yaitu Al-Qanun Fil Al-Thib. Dalam bidang optik Abu Al-Hasan ibn Al-Haithami yang di eropa dikenal dengan nama Al Hazen. Dalam bidang kimia Jaabir ibn Al-Hayyan. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi yang menciptakan ilmu Al-Jabbar. Tokoh-tokoh terkenal dibidang filsafat, antara lain Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd yang di barat lebih dikenal dengan nama Avveroes.
Demikianlah asas-asas kemajuan peradaban yang dibangun oleh dinasti Abbasiah. Sehingga pada masa tersebut umat islam  mencapai masa-masa keemasan dan kejayaannya. Yang mana berkat kejayaan peradaban yang dibangun oleh dinasti Abbasiah ini menyebabkan kemajuan yang luar biasa pada ilmu pengetahuan pada saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...