Minggu, 05 Januari 2014

Penawar Duka yang Melanda

Oleh: AM Bambang Prawiro


Dua hari setelah pertemuan terakhir saya dengannya menjadikan diri saya “tersiksa” tanpanya. Buka suka, apalagi cinta, hanya rasa kagum dan ikatan emosional yang begitu kuat sehingga membutuhkan beberapa hari untuk “melupakannya”. Bayang-bayangnya senantiasa muncul di kepala saya, sulit untuk melupakannya. Walaupun berulang kali dia menyakiti hati dan tidak sesuai dengan keinginan pribadi, namun rasa kagum padanya menjadikan saya tidak bisa untuk “membencinya”. Padahal secara syar’i dan rasional tidak ada alasan untuk mengaguminya. Tidak ada sama sekali, bahkan secara syar’I bisa jadi saya seharusnya membencinya karena dia sering meninggalkan shalat dan tidak istiqamah dalam agamanya. Namun, jujur saja memang sulit untuk melupakannya apalagi untuk membencinya tidak mungkin bisa terjadi.
Itu barangkali sepenggal kisah seorang yang sedang dilanda rasa suka, berbagai alasan ia gunakan untuk menguatkan perasaannya. Segala cara juga diusahakan untuk bisa dekat dengannya, semua bisa dikorbankan dan lebih dari itu rasio-nya sudah lagi tidak berfungsi. Hanya rasa kagum saja dan ikatan emosi yang ada di benaknya, sehingga semua yang berkaitan dengannya pasti indah, menyenangkan dan mengundang hasrat untuk selalu bersamanya.
Tahukah anda bahwa perasaan ini bukan hanya milik remaja, atau mereka yang sedang jatuh cinta? Ia bisa dirasa oleh seluruh umat manusia selama masih ada nyawa di dalam raga. Tentu saja tidak salah dan juga belum tentu benar, jika ia diarahkan kepada hal-hal yang positif bisa jadi ia akan mendatangkan karunia, sebaliknya jika ia dibawa kepada hal-hal yang negative niscaya ia akan menjadi bencana, tidak hanya di dunia namun juga di akhirat sana.
Duka yang melanda sering kali karena keinginan untuk dekat bersamanya tidak bisa tercapai. Lara yang dirasa juga karena rasa di dada yang selalu ingin melihatnya tidak lagi bisa terlaksana. Duka itu akan semakin bertambah ketika terus mengingat dan menyebut si dia. Apalagi jika hal-hal yang berhubungan dengannya selalu diingat, dilihat, dan dirawat. Sebagai contoh ketika ia selalu melihat gambarnya, menyebut namanya, mengingat raut mukanya dan semua hal yang ada hubungan dengannya maka duka itu akan semakin terasa. Bagaimana cara mengatasinya?
Obat bagi rasa duka karena selalu mengingatnya adalah dengan mencoba untuk melepaskan diri dari sikap dominan emosional yang ada. Ketika emosi kita semakin dominan maka rasional kita semakin berkurang. Ketika kita kagum kepada seseorang maka rasional tentang dia tidak lagi berperan, sehingga sangat wajar ketika dia melakukan sebuah kesalahan dan melakukan perbuatan yang menyakitkan ia tidak terasa, yang ada adalah rasa kagum dan suka padanya sehingga semua tentangnya indah belaka. Penawar berikutnya bagi obat duka lara ini adalah mengurangi keinginan-keinginan kita yang tidak rasional, misalnya keinginan kita untuk selalu berasamanya. Secara rasional tidak mungkin seseorang akan sealu bisa bersama, apalagi jika ia adalah orang lain yang bukan siapa-siapa, bukan istri atau suami bukan pula keluarga dekat sehingga sangat tidak mungkin ketika ingin selalu bersamanya.
Kekurangannya seharusnya juga harus selalu diingat, apalagi jika berkaitan dengan agama kita. Tidak mungkin kita akan kagum kepada seseorang yang menyia-nyiakan shalat dan sering meninggalkannya. Tidak mungkin pula kita suka dengan seseorang yang sering kali menghina syar-syiar Islam. Berjuta alasan tidak akan diterima ketika syiar-syiar Allah itu disia-siakan, apalagi sampai kagum dengan para pelakunya. Sadar wahai saudara, duka yang melanda karena tidak bisa bersua dengannya sejatinya adalah skenarioNya agar engkau selalu berada di jalanNya, bukan jalan mereka yang menyia-nyiakan syariatNya. Dekatkanlah diri ini kepadaNya, niscaya duka itu tak akan lagi terasa, semoga…

Pasirtengah, 04 Januari 2014 Pukul 20.36 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...