Senin, 21 Agustus 2017

LGBT Bag. 20 LGBT dalam Hadits

A.      LGBT dalam Al-Hadits
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam beberapa haditsnya menyebutkan mengenai LGBT secara umum dan pelaku homoseksual dan lesbian secara khusus. Isi dari riwayat-riwayat tersebut adalah berkenaan dengan ancaman hukuman dan kekhawatiran beliau akan perilaku ini akan kembali terjadi pada umat Islam. 
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوْ امْرَأَةً فِيْ الدُبُرِ
Allah tidak mau melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki atau menyetubuhi wanita pada duburnya. HR Tirmidzi : 1166, Nasa’i : 1456 dan Ibnu Hibban : 1456 dalam Shahihnya.
Hadits ini menunjukan bahwa Allah Ta’ala tidak akan melihat dan memperhatikan seorang laki-laki yang menyetubuhi laki-laki lain pada duburnya, atau laki-laki yang menyetubuhi wanita pada duburnya. Kalimat Allah Ta’ala tidak melihatnya bermakna tidak akan diperhatikan dan tidak akan dilindungiNya. Riwayat yang lainnya menunjukan laknat atas mereka.
Abdullah ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, telah menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda;
 لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا
Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali.  HR. Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 dan Ahmad, dihasankan Syu’aib Al-Arna`uth.
Makna laknat Allah dalam hadits ini adalah Dia murka dan menjauhkan pelakukanya dari rahmatNya. Pengulangan tiga kali dalam riwayat ini menunjukan keseriusan beliau terhadap laknat Allah atas pelaku homoseksual tersebut.

Selanjutnya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
 مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ
Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya. HR Tirmidzi 1456, Abu Dawud : 4462, Ibnu Majah : 2561 dan Ahmad : 2727, dishahihkan Al-Albani.
Hadits ini secara tegas menunjukan hukuman bagi para pelaku homoseksual, yaitu mereka harus dibunuh baik yang melakukannya atau yang hanya menjadi obyek perlakuan tersebut.
(Allah berfirman): “Demi hidupmu (Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (dalam kecintaan terhadap sodomi)”.
Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata :
وهذه السكرة هي سكرة محبة الفاحشة التي لا يبالون معها بعذل ولا لوم
Kemabukan ini adalah kemabukan cinta terhadap perbuatan yang sangat hina itu, yang seiiring dengan tidak menggubris (tidak malu) terhadap cercaan dan celaan”.
Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ
“Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, hadits shahih isnad.
Riwayat ini menyampaikan mengenai kekhawatiran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai perilaku kaum Nabi Luth yaitu homoseksual yang akan dilakukan oleh umat Islam. Kekhawatiran itu saat ini telah terbukti di mana banyak pelaku homoseksual adalah berasal dari umat Islam. 

Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Itu adalah liwat kecil, yakni laki-laki yang menggauli istrinya di lubang duburnya. HR Ahmad : 6667. 

LGBT Bag. 19 Ayat Al-Qur'an tentang LGBT

1.      QS. Al-Anbiya [21]: 74
وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۗ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ
“Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” QS. Al-Anbiya [21]: 74.

Ayat ini sebagaimana dalam QS Al-A’raf: 80 menyebutkan kembali mengenai perbuatan al-khabaits yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth. Karena perbuatannya tersebut mereka disebut dengan kaum yang jahat lagi fasik.   

LGBT Bag. 18 LGBT dalam Ayat Al-Qur'an

    QS. Al-Hijr: 72, 73 dan 76.
Demikian mabuknya kaum Nabi Luth ‘alaihis salam dalam kecintaan terhadap sodomi,
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
(Allah berfirman): “Demi hidupmu (Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (dalam kecintaan terhadap sodomi)”.
Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata :
وهذه السكرة هي سكرة محبة الفاحشة التي لا يبالون معها بعذل ولا لوم
“Kemabukan ini adalah kemabukan cinta terhadap perbuatan yang sangat hina itu, yang seiiring dengan tidak menggubris (tidak malu) terhadap cercaan dan celaan”.
Sangat pantas kaum gay di zaman Nabi Luth ‘Alaihis Salam tidak mempan peringatan, karena mereka sudah ‘tebal muka’ dan sirna rasa malu dari melakukan perbuatan yang menjijikkan tersebut, sehingga tidak tersisa bagi mereka kecuali datangnya siksa yang keras. Apakah siksa untuk mereka itu?
Allah Ta’ala yang menyebutkan bahwa Allah pernah menyiksa pelaku sodomi dengan siksaan yang sangat mengerikan. Allah Ta’ala mengkabarkan tentang adzab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth ‘alaihis salam , yaitu berupa siksaan yang sangat mengerikan,
فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ
Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.
فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ
Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.
Itulah akibat yang dirasakan oleh kaum yang tidak menaati Nabi mereka, telah sampai kepada mereka peringatan darinya, namun mereka enggan bertaubat dari kemaksiatan mereka tersebut.

Dalam kisah kaum Nabi Luth ini tampak jelas penyimpangan mereka dari fitrah. Sampai-sampai ketika menjawab perkataan mereka, Nabi Luth mengatakan bahwa perbuatan mereka belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya. 

LGBT Bag. 17 LGBT dalam Al-Qur'an

1.      QS. Al-‘Ankabuut: 30-31
Allah Ta’ala yang menyebutkan bahwa pelaku sodomi sebagai kaum perusak dan orang yang zhalim. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-‘Ankabuut: 30,
قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ
(Nabi) Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”.
وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ
Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim“.
Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata :
فأيس منهم نبيهم، وعلم استحقاقهم العذاب، وجزع من شدة تكذيبهم له، فدعا عليهم و { قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ } فاستجاب اللّه دعاءه.
Maka Nabi mereka (Luth) putus asa terhadap (taubatnya) mereka, sedangkan beliaupun mengetahui bahwa kaumnya memang layak mendapatkan adzab dan beliau mengeluh (kepada Rabbnya) akan sikap mereka yang mendustakan diri beliau. Lalu beliaupun “Berdoa:
رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

“Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”, maka Allahpun mengabulkan do’a beliau”

LGBT Bag. 16 LGBT dalam Al-Qur'an

Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing ayat tersebut beserta dengan penafsirannya;
11.      QS. Al-A’raaf: 80-81.
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?”. QS. Al-A’raaf: 80.
Ayat ini mengisahkan tentang perilaku homoseksual yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘Alaihis Salam. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa perbuatan homo seksual yang dilakukan antar sesama pria merupakan perbuatan fahisyah, yaitu suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan. 
Allah SWT dalam Al-Qur’an menyebut zina dengan kata faahisyah (tanpa alif lam), sedangkan homoseksual dengan al-faahisyah (dengan alif lam), (jika ditinjau dari sisi bahasa Arab) tentunya perbedaan dua kata tersebut sangat besar. Kata faahisyah tanpa alif dan lam dalam bentuk nakirah yang dipakai untuk makna perzinaan menunjukkan bahwa zina merupakan salah satu perbuatan keji dari sekian banyak perbuatan keji. Akan tetapi, untuk perbuatan homoseksual dipakai kata al-faahisyah dengan alif dan lam yang menunjukkan bahwa perbuatan itu mencakup kekejian seluruh perbuatan keji.  
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwa Allah Ta’ala mengutus Luth Alaihi Salam kepada kaum Sodom dan negeri-negeri di sekitarnya agar menyembah Allah, mengajak mereka kepada perbuatan yang ma’ruf dan mencegah segala bentuk perilaku haram yang mereka lakukan (homoseksual) yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh anak keturunan Adam dan yang selainnya.[1]
Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, menjelaskan makna fahisyah dalam ayat ini;
الخصلة التي بلغت – في العظم والشناعة – إلى أن استغرقت أنواع الفحش
Perbuatan yang sampai pada tingkatan mencakup berbagai macam kehinaan, jika ditinjau dari sisi besarnya dosa dan kehinaannya.[2]
Salah satu dari sifat kehinaan tersebut adalah sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah Ta’ala :
مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
…yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian. QS. Al-A’raaf: 80.
Maksudnya bahwa perbuatan sodomi yang telah dilakukan kaum Nabi Luth ‘Alaihis Salam tersebut, belumlah pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum mereka. Hal ini disebabkan sodomi itu adalah perbuatan menyelisihi fitrah, perbuatan ini sangat menjijikkan, karena seorang laki-laki mensetubuhi dubur laki-laki lain, sedangkan di dalam dubur itu adalah tempat kotoran besar yang bau, kotor, jorok lagi menjijikkan. Sehingga pantaslah fitrah yang lurus pastilah menolaknya.
Lanjutan ayat ini adalah firmanNya:
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. QS. Al-A’raaf: 81.
Al-Baghawi rahimahullah, menjelaskan makna “musyrifiin (melampui batas)” dalam ayat ini,
مجاوزون الحلال إلى الحرام
Melampui batasan yang halal (beralih) kepada perkara yang haram.[3]
Maksudnya adalah bahwa perbuatan melampaui batas tersebut adalah melampaui fitrah yang telah diciptakan Allah Ta’ala kepada manusia, yaitu seorang laki-laki mencintai perempuan. Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata :
متجاوزون لما حده اللّه متجرئون على محارمه
Melampui batasan yang telah Allah tetapkan lagi berani melanggar larangan-Nya yang haram dikerjakan.[4]
Keharaman dari perbuatan homoseksual sudah sangat jelas dalam ayat ini, penyebutan sebagai perbuatan al-fakhisyah dan al-khaba’its telah menunjukan keharamannya. Demikian pula hukuman atas perbuatan mereka juga merupakan ancaman yang tegas yang menunjukan kepada keharaman dari perbuatan ini.  
Ibnu katsir juga berpendapat bahwa perbuatan homoseksual termasuk ke dalam perbuatan yang dzalim dan berlebih-lebihan (israf). Karena berpaling dari perempuan yang telah Allah ciptakan kepada perempuan, yang merupakan tindakan dzalim karena meletakan sesuatu tidak pada tempatnya.[5] 
Allah Ta’ala telah memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku homoseksual yaitu dalam firmanNya:
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ
Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu. QS. Al-A’raaf: 80.
Allah Ta’ala dalam ayat di atas menyebut kaum Nabi Luth ‘alaihis salam yang melakukan perbuatan sodomi tersebut dengan sebutan “para pelaku kriminal”, yaitu kaum yang teah melakukan kejahatan di atas kejahatan. Dengan demikian, mereka ini sesungguhnya layak untuk disebut “penjahat seksual”, karena telah melakukan kejahatan (kriminal) dalam menyalurkan hasrat seksual mereka ditempat yang terlarang. Inilah firman Allah Ta’ala yang menyebutkan bahwa pelaku sodomi sebagai kaum perusak dan orang yang zhalim.



[1] Abu Al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi ad-Dimasyqi, 1421 H/2001 M. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhiim, Kuwait: Jam’iyyah Ihya At-Turats Al-Islami, hlm. 1134.
[2] Tafsir As-Sa’di,
[3] Tafsir Al-Baghawi.
[4] Tafsir As-Sa’di
[5] Abu Al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi ad-Dimasyqi, 1421 H/2001 M. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhiim, Kuwait: Jam’iyyah Ihya At-Turats Al-Islami, hlm. 1135. 

LGBT Bag. 15 Hukum Pelaku LGBT di Indonesia

1.         Hukum Pelaku LGBT di Indonesia
Di Indonesia legalitas homoseksual itu sendiri tidak ada. Namun di sisi lain perkawinan homoseksual juga tidak diakui oleh hukum Indonesia. Selama ini yang dilarang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) hanya homoseksual yang dilakukan terhadap anak-anak di bawah umur. Aturan tersebut terdapat ada di Pasal 292 KUHP. Pada pasal tersebut tidak secara tegas melarang homoseksual yang dilakukan antar orang dewasa.Meski tidak ada legalitas soal status homoseksual di Indonesia, ada aturan pidana terkait hubungan sesama jenis yang terdapat dalam pasal tersebut, antara lain berbunyi: “Orang yang cukup umur, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa belum cukup umur, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”
R. Soesilo dalam bukunya “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal” menjelaskan bahwa:
1.    Dewasa = telah berumur 21 tahun atau belum berumur 21 tahun, akan tetapi sudah pernah kawin.
2.    Jenis kelamin sama = laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.
3.    Tentang perbuatan cabul = segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu berahi kelamin, misalnya: cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dan sebagainya. Dalam arti perbuatan cabul termasuk pula onani.
4.    Dua orang semua belum dewasa atau dua orang semua sudah dewasa bersama-sama melakukan perbuatan cabul, tidak dihukum menurut pasal ini oleh karena yang diancam hukuman itu perbuatan cabul dari orang dewasa terhadap orang belum dewasa.
5.    Supaya dapat dihukum menurut pasal ini, maka orang dewasa itu harus mengetahui atau setidak-tidaknya patut dapat menyangka bahwa temannya berbuat cabul itu belum dewasa.
Namun ada pasal lain yang lebih tegas bisa menjerat mereka, aktor atau pelaku gay. Aturan tersebut adalah pasal 32, 33 dan 36 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.[1]
Pasal 32: Setiap orang yang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Pasal 33: Setiap orang yang mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp7.500.000.000,00 (tujuh miliar lima ratus juta rupiah).
Pasal 36: Setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). [2]
Bangsa Indonesia ini, kata Soepomo,[3] dibangun dalam suatu tatanan integralistik. Artinya, kita adalah masyarakat organis. Setiap diri kita adalah anggota dari rumpun keluarga-keluarga. Model kemanusiaan kita sebagai orang Indonesia adalah pemuliaan generasi dengan jelasnya garis keturunan yang membentuk rumpun-rumpun kemasyarakatan. Inilah jati diri pertama dalam bangunan hukum nasional pasca proklamasi kemerdekaan pada 1945.
Oleh karenanya, perilaku seksual adalah hal yang diatur secara ketat dalam suatu ikatan perkawinan. Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 merumuskannya sebagai:
“Ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa“ .
Perilaku seksual hanya diwadahi dalam perkawinan yang merupakan “ikatan lahir batin” yang bertujuan membentuk keluarga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ia bukan sekedar catatan sipil, tapi lebih dari itu adalah pengurusan sebuah tatanan kemasyarakatan.
Sebab, satu-satunya nilai kemanusiaan dari perilaku seksual adalah pemeliharaan generasi. Perilaku seksual tidak boleh dilakukan di luar konsesi ini, sebagaimana halnya pelatihan militer tidak boleh dilakukan di luar tujuan mempertahankan kedaulatan negara.
Jadi, secara terang, pelanggengan perilaku LGBT sebagaimana halnya pemerkosaan, perzinahan/ perselingkuhan, dan seks bebas samasekali tidak mendapat tempat dalam payung hukum Indonesia. Kesemuanya itu bukan hanya jahat kepada satu atau dua orang, tetapi juga kejahatan bagi pemuliaan generasi. Perilaku tersebut secara jelas menghilangkan satu-satunya nilai kemanusiaan dari perilaku seksual yang dikaruniakan Tuhan Yang Maha Esa.[4]



[1]R. Soesilo dalam bukunya “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
https://kumparan.com/wisnu-prasetyo/jerat-hukum-untuk-mereka-yang-pesta-gay (Diakses pada tanggal 15 agustus 2017, pada pukul 16: 20 )
[2]R. Soesilo dalam bukunya “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
https://kumparan.com/wisnu-prasetyo/jerat-hukum-untuk-mereka-yang-pesta-gay (Diakses pada tanggal 15 agustus 2017, pada pukul 16: 20 )

LGBT Bag. 14 Dampak Sosial dan Kesehatan

1.    Dampak  LGBT
a.    Dampak sosial
Beberapa  dampak  sosial  yang  ditimbulkan akibat LGBT adalah sebagai   berikut:  Penelitian menyatakan  “seorang  gay  mempunyai pasangan  antara  20-106  orang  per  tahunnya.  Sedangkan  pasangan  zina seseorang  tidak  lebih  dari  8  orang seumur  hidupnya.” [1] 43%  dari golongan   kaum   gay   yang   berhasil   didata   dan   diteliti   menyatakan bahwasanya selama hidupnya mereka melakukan homo seksual dengan lebih  dari  500  orang.  28%  melakukannya  dengan  lebih  dari  1000  orang. 79%   dari   mereka   mengatakan   bahwa   pasangan   homonya   tersebut berasal  dari  orang yang tidak dikenalinya sama sekali. 70% dari mereka hanya  merupakan  pasangan  kencan  satu  malam  atau  beberapa  menit saja.[2] Hal itu jelas-jelas melanggar nilai-nilai sosial masyarakat.
b.   Dampak kesehatan
Dampak-dampak kesehatan yang ditimbulkan di antaranya adalah 78% pelaku homo seksual terjangkit penyakit kelamin menular.[3] Rata-rata usia kaum gay adalah 42 tahun dan menurun menjadi 39 tahun jika korban AIDS dari golongan gay dimasukkan ke dalamnya. Sedangkan rata-rata usia lelaki yang menikah dan normal adalah 75 tahun. Rata-rata usia Kaum lesbian adalah 45 tahun sedangkan rata-rata wanita yang bersuami dan normal 79 tahun.
Mengambil pilihan untuk menjadi LGBT membuat seseorang juga harus menerima berjuta risiko dalam satu paket. Salah satu risikonya adalah berkaitan dengan transmisi HIV/AIDS. Kelompok transmisi tertinggi hingga beberapa tahun lalu di Indonesia itu LSL ( Lelaki Seks Lelaki, MSM- Men sex Men ). Sekitar awal tahun 1981 dari kaum gay pulalah yang ditemukan pertama kali mengidap penyakit tersebut.  (sumber Centers for Diseases Control-CDC, Los Angeles). Selanjutnya gaya hidup yang bebas seperti ini malah cukup menimbulkan kekhawatiran semakin meningkatnya angka kejadian penyakit tersebut.
Telah ditemukan banyak kasus kesehatan yang muncul dari perilaku LGBT. Berdasarkan data WHO menyebutkan bahwa kaum gay dan transgender memiliki risiko 20 kali lebih besar tertular penyakit HIV/AIDS dibandingkan dengan populasi normal.[4]



[1]Corey,  L.  And  Holmes,  K. Sexual Transmissions of Hepatitis A in Homosexual Men.”New England J. Med., 1980, hal. 435-438.
[2]Bell, A. and Weinberg, M.Homosexualities: a Study of Diversity Among Men and Women.  New York: Simon & Schuster, 1978.
[3]Rueda, E. “The Homosexual Network.”(Old Greenwich, Conn., The Devin Adair Company, 1982), hal. 53 (http://repository.ummetro.ac.id/files/dosen/f893aa81c705960fc6121c08f7204b50.pdf )
[4]http://www.republika.co.id/berita/mpr-ri/berita-mpr/16/02/28/o38p1z359-gay-dan-transgender-berisiko-20-kali-lebih-besar-tertular-hivaids

LGBT Bag. 13 LGBT dalam Yahudi

A.  LGBT dalam Agama Yahudi
Agama Yahudi membenci kaum homoseksual. Tindakan-tindakan homoseksual akan berujung pada hukuman mati. Hukuman ini didasarkan halakha (Hukum Yahudi), Kaum Yahudi Ortodoks adalah sekte yang membenci perbuatan-perbuatan homoseksual, sedangkan Yahudi Rekonstruksionis dan Yahudi Reformasi membolehkan.
Ayat yang melarang perilaku LGBT ada di kitab suci Torah, surat Leviticus 18: 22, yang menyatakan, "Thou shalt not lie with mankind as with womankind; it is abomination." dalam Bahasa Indonesia, ayat itu kurang lebih berarti, "Dilarang bagimu untuk berhubungan suami istri dengan sesama lelaki seperti dirimu melakukannya dengan wanita; karena sesungguhnya hal itu adalah perbuatan nista."
Ayat lainnya, Leviticus 20:13 berbunyi, "And if a man lie with mankind, as with womankind, both of them have committed abomination: they shall surely be put to death; their blood shall be upon them." Artinya adalah "Dan jika seorang lelaki berhubungan suami istri dengan sesamanya seperti dia berhubungan dengan wanita: Mereka harus dibunuh: dan bersimbah darah mereka sendiri."
Kedua ayat ini menunjukan larangan melakukan perilaku homoseksual, yaitu seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lainnya. Adapun larangan bagi perilaku lesbian maka sebagian besar Rabbi (Pendeta Yahudi) telah melarangnya. Larangan ini didasarkan ayat pada Leviticus 18:3, "Do not follow the ways of Egypt where you once lived, nor of Canaan, where I will be bringing you. Do not follow any of their customs. Artinya "Janganlah kamu mengikuti kebiasaan masyarakat Mesir, tempat di mana kamu pernah tinggal, begitu pula kebiasaan masyarakat Kanaan, tempat di mana Aku akan membimbingmu. Jangan mengikuti satupun dari kebudayaan mereka." Penjelasan dari ayat ini adalah bahwa masyarakat mesir kuno mempraktikkan pernikahan sejenis, dan poliandri.
Hukum dasar yang pertama kali digunakan oleh kaum Yahudi adalah kitab Taurat, salah satu dari ayatnya menjelaskan “Seorang pria tidak diperkenankan tidur dengan pria lain sebagaimana [dia akan tidur] dengan seorang wanita, itu adalah sesuatu yg sangat dibenci "(Imamat 18:22). Selanjutnya kata “sesuatu yang sangat dibenci" ditafsirkan ulang menjadi “sesuatu yang menyimpang dari kewajaran”. Kaum Yahudi ortodoks kemudian menganggap homoseksual tidak sepenuhnya bisa dianggap sebagai sebuah dosa. Maksudnya, seseorang yang melakukan perilaku homoseksual akan terhapus dosanya bila dia sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuat dan memohon ampun pada Tuhan.
Hukuman bagi pelaku LGBT dalam agama Yahudi adalah dicambuk, adapun secara khusus bagi pelaku lesbian pelakunya tidak dikenai hukuman cambuk. Wanita yang pernah menjadi seorang Lesbian tidak diharamkan untuk memasuki kependetaan dan juga tidak diharamkan untuk suaminya. Sebuah hukum adakalanya mengalami perubahan atau amandemen sesuai dengan situasi dan kondisi dimana hukum itu diterapkan. Nampaknya perubahan hukum tersebut juga terjadi pada pandangan kaum Yahudi terhadap hukum homoseksual.
Pada tahun 1980, sebuah universitas Yahudi telah merubah aturannya untuk melegalkan seorang gay menjadi mahasiswa di sana. Selanjutnya, pada tahun 1998, Central Conference of American Rabbis mulai memperbolehkan pernikahan sesama jenis baik itu laki-laki atau perempuan, meski pernikahan mereka tidak termasuk dalam pernikahan yang disahkan agama. Pada tahun 2000, pernikahan sesama jenis sudah diakui sebagai pernikahan yang sah dalam agama Yahudi. Saat ini, kaum rekonstruksionis Yahudi mengatakan bahwa segala pembatasan tentang hukum homoseksual telah dianggap batal atau tidak berlaku. Jadi, saat ini tindakan yang berhubungan dengan percintaan sesama jenis didukung penuh oleh agama Yahudi.

Dalam pandangan berbagai macam sekte yang ada di agama Yahudi adakalanya yang menyutujui LGBT dan ada yang tidak. Dalam pandangan sekte Ortodoks, LGBT sangat tidak diperbolehkan karena berdasarkan kitab suci Agama Yahudi. Akan tetapi, menurut sekte Rekonstruksionis dan Reformasi membolehkan. Kalau kita kaji secara keseluruhan bahwa LGBT secara universal tidak diperbolehkan dalam pandangan Agama Yahudi karena berdasarkan kitab suci Torah.